Ikatan Ormas dan Parpol
Bak dalam sepiring es campur yang nikmat, ada berbagai makanan yang memberi rasa dan kenikmatan yang menggugah selera. Begitu pula yang terjadi dalam berpolitik. Di negeri yang memiliki pluralitas yang unik ini, Indonesia memberi kesan es campur itu dalam kancah per-politik-an. Setiap orang berhak menyuarakan pendapat untuk mencapai satu tujuan yang diinginkan setiap orang, salah satunya menjadi Bangsa yang bisa dibanggakan.
Salah satu contoh partai politik Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan anak kandung yang dilahirklan dari tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga hubungan ini dapat dikatakan sebagai relasi politik yang “genetikal” antara NU dengan PKB, NU sebagai bapak dan PKB adalah anaknya. Namun, ditengah percaturan politik yang dinamis ini seringkali bapak dan anak sering beda pendapat dan berjalan berseberangan yang tentunya memunculkan keretakan hubungan.
Sering kali ada pembelotan antara anak terhadap bapak yang memaksa mereka mengupas lagi konsep lama bahwa PKB adalah anak kandung NU. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa PKB memiliki hutang historis terhadap NU. Tanpa NU, PKB tidak akan menjadi sebuah kekuatan politik yang diperhitungkan seperti sekarang. Sedangkan bagi NU, PKB merupakan wadah aspirasi politik yang dapat memposisikan NU sebagai organisasi berpengaruh dimata umat maupun dihadapan negara. Sehingga NU memiliki kepentingan ideologis dalam eksistensi PKB selain memperjuangkan aspirasi kaum nahdliyyin tentunya. Relasi historis dan ideologis menjadi saluran aspirasi ini pada satu titik menjadi hubungan yang sifatnya simbiosis mutualisme, keduanya diuntungkan. Namun, pada satu titik hubungan yang demikian akan menjadi hubungan organis yang dapat berubah kapan saja. Relasi yang yang demikianlah yang menyebabkan relasi politik “genetikal” NU-PKB tidak efektif ketika dibutuhkan sebuah keselarasan suara. Hal ini dengan jelas terjadi beberapa hari yang lalu dalam pemilihan gubernur Jatim dimana suara bapaknya (beberapa tokoh NU) ditolak anaknya (PKB). Ketidakpatuhan anak terhadap pendapat bapaknya dalam konteks geopolitik Jatim akan memberi gambaran yang cukup signifikan kedepannya. Sehingga, pola hubungan yang sekarang sedang “tidak baik” ini menjadi catatan yang menarik jika dilihat dalam konteks hubungan “genetikal” politik PKB-NU yang sama-sama memiliki tanggungan moral, menyuarakan umatnya, khususnya di Jatim.Potensi menyuarakan umat di Jatim bagi NU-PKB merupakan hal yang kongkrit jiika dikaitkan dengan suara yang signifikan dalam kursi dewan maupun kultur masyarakatnya yang tradisionalis dan lekat dengan tradisi sarung.
Untuk mengatasi berbagai keluhan dari warga NU yang merasa diabaikan oleh PKB maka perlu diadakan satu kerjasama antara PKB dengan NU agar kedua belah pihak saling memahami. Salah satu cara adalah dengan melakukan satu orientasi bagi para calon anggota eksekutif maupun legislatif yang berasal dari PKB untuk memahami sejarah dan kaitan PKB dengan NU. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja untuk mengatasi keluhan dari kalangan NU yang saat ini merasa terabaikan. Bahkan cenderung hanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu di PKB untuk keuntungan mereka sendiri.
Keluhan muncul dalam Semiloka bertajuk Peran NU dalam pemilu. Para ketua cabang NU sering kali merasa bahwa mereka didekati oleh orang-orang PKB hanya ketika terjadi pemilihan pemimpin ataupun jabatan eksekutif dan saat itu dalam rangka menghadapi pemilu. Terdapat tiga hubungan antara PKB dengan NU. Pertama, hubungan ideologis. NU dan PKB merupakan dua organisasi yang memiliki kesamaan dalam hal visi, misi, dan nilai-nilai perjuangan serta bersumber dari ajaran Islam dan khususnya ahlusunnah wal jamaah. Hubungan kedua merupakan hubungan historis, yaitu PKB didirikan oleh para tokoh NU yang merupakan tim sembilan. sampai sejauh ini tokoh-tokoh pendiri PKB tersebut masih berkecimpung dan memperhatikan PKB. Hubungan ketiga adalah hubungan yang bersifat aspiratif, yaitu PKB merupakan salah satu saluran untuk menyampaikan aspirasi, khususnya aspirasi politik.
Namun demikian dalam hubungan tersebut tidak bersifat institusional antara NU dengan PKB, tetapi hubungan PKB dengan pribadi-pribadi yang merupakan warga NU. NU tidak bergerak dalam wilayah politik praktis dan cuma bergerak dalam wilayah aspiratif, jadi hubungan tersebut antar warga NU secara individual. Namun ada gagasan untuk menggunakan pola rekrutmen PENAK (Pesantren, Nahdlatul Ulama, dan Kebangkitan Bangsa). ini merupakan salah satu cara agar kedua belah pihak dapat saling memahami posisi masing-masing. Untuk jangka pendek keluhan-keluhan dari warga NU dapat diatasi dengan melakukan komunikasi yang lebih intens.yaitu dengan melakukan dialog-dialog antara PKB dengan NU baik di tingkat nasional maupun wilayah.
No comments:
Post a Comment