Petani Desa
Kau terlalu sibuk dengan sawah dan padi milik majikanmu
Sampai kau lupa dengan perut kosongmu
Bahkan kau tak pernah hiraukan warna hitam kulitmu
Dan paling parah, kini tulangmu telah nampak di hadapan mata
Kau begitu kurus sekali petaniku
Kau nampak begitu lelah dengan kesibukanmu
Keringat bercucuran bercampur sengal nafas yang tak
beraturan
Kaki penuh lumpur mengendap kering di setiap kulitmu
Tangan kasar sebab kasihmu yang penuh hanya untuk merawat
padi-padi itu
Apa kau tak pernah sejenak untuk mengambil waktu istirahat
Ataukah kamu benar-benar tak diberikan waktu untuk sedikit
istirahat?
Begitu malang nasibmu petaniku
Kini senja sudah
mulai menyapa
Pulanglah dan bahagiakan anak beserta isterimu di rumah
Kembalilah ke pemondokan keluarga kecilmu
Kedatanganmu telah ditunggu dan diharapkan
Jangan kau habiskan hari ini dengan kesibukan yang tak pasti
kau menyapa esok hari
Sesekali tengoklah dan pulanglah
Kebahagiaanmu adalah keluargamu
Karena keluargamu tak lebih penting dibanding upah kerjamu
Yogyakarta, 02 April 2017
No comments:
Post a Comment