Cerita
dari kata “Senja”
Sore
itu aku mencoba bermain dengan imajinasiku. Menjelang terbenam sang surya di
ufuk barat, langkahku terhenti di pinggiran batas kota. Mata telanjangku begitu
liar memandang segenap langit yang membiru. Berseri di atas tarian awan yang
menggoda syahdu. Semakin ku terperangkap dalam kejamnya imajinasiku. Bahwa “CINTA”
itu hanyalah kata dari istilah perasaan yang terlisankan. Dan kemudian aku
larut kembali dalam lamunan panjang.
Sinar
manja dari sang surya sore itu, membius akal sehatku. Betatpapun gila alam
fikirku, hatiku tak pernah munafik pada kenyataan. Keindahan senja adalah
gambaran keindahan dari sang maha pemilik segala cinta. Dan dialah semua yang
mengindahkan setiap langit dan bumi dengan kebesaran cinta-NYA. Setuju atau
tidak setuju, bagiku cinta yang sering di lontarkan orang-orang yang sedang
berkasmaran adalah rasa dari hati yang di gerakkan oleh sang pemilik cinta itu
sendiri. Bukan dari sesuatu yang
membuatnya terpesona ataupun kagum. Karena yang demikian aku sangat hawatir,
datangnya dari nafsu dan ego diri kita sendiri.
Sesaat
itu, senja yang aku pinjam dari istilah
umum, merobek imajinasiku di waktu itu. Kekalutan, kegundahan, kebingungan,
entah kemana sebegitu cepatnya menghambur. Berterbangan seolah takut pada sang
senja yang menawarkan keindahan kasih sayangnya kepada semua penikamat senja,
bahkan semua penghuni alam semesta. Ahh, aku benar-benar tersipu menunduk dalam
dekapan sang pemilik ‘Senja”. Lalu kuambilnya posisi bersila di atas tanah,
sembari kupejamkan mataku yang sedari tadi liar menghunus dinding langit.
Kutarik nafas sedalam-dalamnya, aku keluarkan perlahan mengikuti detak jantung
dan aliran darah. Berharap dengan begitu hatiku jatuh dalam jurang keromantisan
alam sore itu.
Gelap
dan terang adalah keadaan yang paling sulit dibayangkan. Ataupun jika aku boleh
mengatakan lebih kasar, antara gelap dan terang hanyalah hasil dari imajinasi
kata yang berasal dari pencarian realita. Aku sebenarnya tak setuju dengan kata
gelap ataupun terang, aku lebih setuju dengan istilah “Cinta” saja. Karena
dengan begitu secara tidak langsung aku tak menganaktirikan satu sama lain
dengan perbedaan sifatnya. Tetapi itulah fakta dari realita yang ada, bahwa
istilah gelap dan terang adalah hasil dari perwujudan sang pemilik cinta. Dan kesemua
saja hasil karya sang maha cinta. Tak usah kita pilih memilih, lebih-lebih membeda-bedakan,
semua sama. Bahwa cinta yang agung tak pernah memandang baik dan buruk. Tetapi hanyalah
ketulusan dan kelembutan hati.
Dan
ahirnya aku tahu, mencintai adalah setia menjaga perasaan. Dan begitulah yang diajarkan
alam senja kala itu, dia setia pada rasa yang telah maha cinta berikan. Dan sampai
aku tak lagi bisa memandang senja, dia akan tetap setia pada cintanya.
Yogyakarta, 01 Januari 2018
-Tansah Eleng Gusti-

No comments:
Post a Comment