Monday, 1 January 2018

Cerita dari kata "Senja"


Cerita dari kata “Senja”
            Sore itu aku mencoba bermain dengan imajinasiku. Menjelang terbenam sang surya di ufuk barat, langkahku terhenti di pinggiran batas kota. Mata telanjangku begitu liar memandang segenap langit yang membiru. Berseri di atas tarian awan yang menggoda syahdu. Semakin ku terperangkap dalam kejamnya imajinasiku. Bahwa “CINTA” itu hanyalah kata dari istilah perasaan yang terlisankan. Dan kemudian aku larut kembali dalam lamunan panjang.
            Sinar manja dari sang surya sore itu, membius akal sehatku. Betatpapun gila alam fikirku, hatiku tak pernah munafik pada kenyataan. Keindahan senja adalah gambaran keindahan dari sang maha pemilik segala cinta. Dan dialah semua yang mengindahkan setiap langit dan bumi dengan kebesaran cinta-NYA. Setuju atau tidak setuju, bagiku cinta yang sering di lontarkan orang-orang yang sedang berkasmaran adalah rasa dari hati yang di gerakkan oleh sang pemilik cinta itu sendiri. Bukan dari  sesuatu yang membuatnya terpesona ataupun kagum. Karena yang demikian aku sangat hawatir, datangnya dari nafsu dan ego diri kita sendiri.
            Sesaat itu,  senja yang aku pinjam dari istilah umum, merobek imajinasiku di waktu itu. Kekalutan, kegundahan, kebingungan, entah kemana sebegitu cepatnya menghambur. Berterbangan seolah takut pada sang senja yang menawarkan keindahan kasih sayangnya kepada semua penikamat senja, bahkan semua penghuni alam semesta. Ahh, aku benar-benar tersipu menunduk dalam dekapan sang pemilik ‘Senja”. Lalu kuambilnya posisi bersila di atas tanah, sembari kupejamkan mataku yang sedari tadi liar menghunus dinding langit. Kutarik nafas sedalam-dalamnya, aku keluarkan perlahan mengikuti detak jantung dan aliran darah. Berharap dengan begitu hatiku jatuh dalam jurang keromantisan alam sore itu.
            Gelap dan terang adalah keadaan yang paling sulit dibayangkan. Ataupun jika aku boleh mengatakan lebih kasar, antara gelap dan terang hanyalah hasil dari imajinasi kata yang berasal dari pencarian realita. Aku sebenarnya tak setuju dengan kata gelap ataupun terang, aku lebih setuju dengan istilah “Cinta” saja. Karena dengan begitu secara tidak langsung aku tak menganaktirikan satu sama lain dengan perbedaan sifatnya. Tetapi itulah fakta dari realita yang ada, bahwa istilah gelap dan terang adalah hasil dari perwujudan sang pemilik cinta. Dan kesemua saja hasil karya sang maha cinta. Tak usah kita pilih memilih, lebih-lebih membeda-bedakan, semua sama. Bahwa cinta yang agung tak pernah memandang baik dan buruk. Tetapi hanyalah ketulusan dan kelembutan hati.
            Dan ahirnya aku tahu, mencintai adalah setia menjaga perasaan. Dan begitulah yang diajarkan alam senja kala itu, dia setia pada rasa yang telah maha cinta berikan. Dan sampai aku tak lagi bisa memandang senja, dia akan tetap setia pada cintanya.

Yogyakarta, 01 Januari 2018
-Tansah Eleng Gusti-

             

No comments:

Post a Comment

Hukum Pidana Islam Di Terapkan Di Indonesia

Hukum Pidana Islam Dari Kaca Mata Ke-Indonesiaan             Indonesia adalah Negara kesatuan dari berbagai macam perbedaan dan kera...

Populer