Thursday, 23 March 2017

Kapitalisme Musuh Pancasila



Kapitalisme Musuh Pancasila

Radika Fawwazulhaq A.

Di era peralihan,dari era tradisionalitas menuju persimpangan jalan modernitas yang sudah mulai kita rasakan, menjadikan eksistensi dari pancasila sebagai falsaafah hidup bagi setiap warga Indonesia terus di pertanyakan. Masihkah layak dan relevan nilai dari setiap sila yang ada pada pancasila. Semakin banyaknya problematika yang melanggar nilai-nilai dari pancasila. Pergeseran waktu terus mengikis syimbol kekuatan dan implementasi dari nilai-nilai pancasila itu sendiri.
Sekarang kita banyak menjumpai kekuatan kapitalisme baik itu dari investor asing maupun investor pribumi yang mematikan peradaban berbangsa dan bernegara di bawah payung pancasila. Semua itu berjalan dengan normal dan tanpa kita sadari, kita telah terjebak dalam pembodohan kaum kapitalis. Sebut saja china, negara tirai bambu itu datang dengan membawa iming-iming bantuan dan kekayaan untuk Indonesia lebih maju, tanpa kita tau siasat dibalik itu semua. Entah kita yang terlalu lugu, ataukah kita yang terlalu polos. Namun faktanya, dengan bantuan tersebut, telah melahirkan sebuah kerjasama dan kesepakatan antara Indonesia dan China. China berhasil mengirimkan sebagian penduduknya untuk bekerja di Indonesia, untuk mengurangi populasi penduduk China agar kepadatan penduduk dapat teratasi. Bahkan tak hanya pekerja berat saja yang mulai di dominasi warga China, jauh sebelum itu sudah banyak investor China yang menguasai sektor pasar Indonesia, seperti mall atau pusat perbelanjaan lainnya yang mematikan pasar tradisional Indonesia.
Di jogja ini misalnya, kita tidaklah sadar telah banyak berdiri mall mall, pusat perbelanjaan, pengusaha-pengusaha asing yang rata-rata adalah investor dari china. Dan itu semua pastinya akan berimbas pada perekonomian dalam negeri. Perekonomian yang tidaklah merata, terjadinya ketimpangan sosial, terjadinya peradaban baru yang semakin tak tertata dll. Kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia, keadilan sosial, tanpa kita sadari ini semua semakin tak bernilai. Dan Inilah menurut saya zaman peralihan dari zaman tradisionalitas menuju zaman modernitas yang akan banyak di kendalikan oleh gerakan kapitalis dan akan menyerang nilai-nilai pancasila sebagai idielogi Negara.
Rakyat-rakyat kecil pengisi pasar tradisional sebagai tempat bermata pencaharian mereka, secara halus telah di sabotase para kaum kapitalis. Ratusan orang bahkan ribuan orang dari semua pasar tradisional yang berada di jogja, adalah aset perekonomian daerah yang juga akan mempengaruhi perekonomian dalam negeri. Dan mereka semua telah menjadikan pasar tradisional sebagai pusat perputaran uang dari penjual-pembeli sebagai peredaran uang yang tak dapat di gantikan. Namun itu dulu, sekarang perlahan-lahan konsumen  dan penggandrung pasar tradisional mulailah berpindah haluan ke mall, supermarket, dll yang itu menawarkan sejuta kemewahan, kebersihan yang terjamin ketimbang pasar tradisional, pelayanan yang baik dan tentunya memuaskan daripada setiap konsumennya. Tetapi para konsumen yang dulu menjadikan pasar tradisional adalah pusat perbelanjaa satu-satunya yang paling banyak di buru, kini lambat laun hanya tinggal cerita. Kaum modernis yang cenderung lebih memilih jalan intstanisasi, merubah cara pandang kita yang hidup di zaman modernitas untuk memilih keadaan yang nyaman dan instan. Lalu bagaimana nasib rakyat kecil sebagai pengisi keramaian di pasar tradisional yang telah lama ikut andil dalam pergejolakan perekonomian indonesia dari masa ke masa? Dan inilah gerak mematikan dari kaum kapitalis yang terus menyerang rakyat, dan terus mengrong-rong sektor perekonomian warga negara Indonesia.
Melihat fenomena Indonesia saat ini, dimana letak nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, pancasila telah mengalami degradasi nilai sebagai falsafah hidup dari setiap rakyat Indonesia. Warga Negara Indonesia tanpa sadar telah membiarkan nilai falsafah negara terkikis dengan adanya gerakan kapitalis. Begitu juga para petinggi elit di Indonesia, orang-orang yang berada di pemerintahan. Begitu acuhnya dengan kebijakan-kebijakan yang itu sangat merugikan bangsa dan Negara yang sudah jelas Negara yang berideologikan pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.  Ketimpangan terjadi dimana-mana. Gap antara si kaya dan si miskin semakin tampak jelas terlihat, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Dan itu semua akan berimbas pada stabilitas ekonomi negara. Khususnya bagi setiap warga indonesia yang mengharapkan adanya kesejahteraan bersama, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk itu terlepas dari keterpurukan nilai-nilai pancasila yang terus tergerus peradaban modernitas dengan gerakan kapitalismenya, kita sebagai warga Indonesia, sebagai kaum muda khususnya. Jangan pernah bisa lepas dari nilai-nilai yang telah melekat pada negara penganut pancasilai ini. Karna tanpa adanya pembaharuan dari setiap genarsi bangsa, dengan peradaban yang terus menawarkan kemewahan tapi mematikan idiologi berbangsa dan bernegara, kita tidaklah bisa untuk terus mengikuti peperangan hidup melawan modernitas. Kita tidak akan bisa menang melawan gerakan-gerakan yang semakin hari semakin menggerus nilai-nilai falsafah bangsa. Tanpa kita perkuat nilai-nilai pancasila itu pada diri kita masing-masing.  Tanpa kita tanamkan dan kita tularkan, nilai berbangsa dan bernegara dari falsafah pancasila yang telah mengkultur bertahun tahun, dan telah menjadi idiologi bersama dalam bernegara.
Pemerintah juga memiliki peran penting dalam hal ini, salah satu alasan perpindahan masyarakat dari pasar tradisional ke mall adalah karena pada umumnya pasar tradisional kumuh dan kurang terawat. Karena nya pasar harus menjadi salah satu proyeksi pembangunan yang dicanangkan pemerintah.  

No comments:

Post a Comment

Hukum Pidana Islam Di Terapkan Di Indonesia

Hukum Pidana Islam Dari Kaca Mata Ke-Indonesiaan             Indonesia adalah Negara kesatuan dari berbagai macam perbedaan dan kera...

Populer