Kapitalisme
Musuh Pancasila
Radika Fawwazulhaq A.
Di era peralihan,dari era tradisionalitas menuju persimpangan jalan
modernitas yang sudah mulai kita rasakan, menjadikan eksistensi dari pancasila
sebagai falsaafah hidup bagi setiap warga Indonesia terus di pertanyakan.
Masihkah layak dan relevan nilai dari setiap sila yang ada pada pancasila.
Semakin banyaknya problematika yang melanggar nilai-nilai dari pancasila. Pergeseran
waktu terus mengikis syimbol kekuatan dan implementasi dari nilai-nilai pancasila
itu sendiri.
Sekarang kita banyak menjumpai kekuatan kapitalisme baik itu dari
investor asing maupun investor pribumi yang mematikan peradaban berbangsa dan
bernegara di bawah payung pancasila. Semua itu berjalan dengan normal dan tanpa
kita sadari, kita telah terjebak dalam pembodohan kaum kapitalis. Sebut saja
china, negara tirai bambu itu datang dengan membawa iming-iming bantuan dan
kekayaan untuk Indonesia lebih maju, tanpa kita tau siasat dibalik itu semua.
Entah kita yang terlalu lugu, ataukah kita yang terlalu polos. Namun faktanya,
dengan bantuan tersebut, telah melahirkan sebuah kerjasama dan kesepakatan
antara Indonesia dan China. China berhasil mengirimkan sebagian penduduknya
untuk bekerja di Indonesia, untuk mengurangi populasi penduduk China agar
kepadatan penduduk dapat teratasi. Bahkan tak hanya pekerja berat saja yang
mulai di dominasi warga China, jauh sebelum itu sudah banyak investor China
yang menguasai sektor pasar Indonesia, seperti mall atau pusat perbelanjaan
lainnya yang mematikan pasar tradisional Indonesia.
Di jogja ini misalnya, kita tidaklah sadar telah banyak berdiri mall
mall, pusat perbelanjaan, pengusaha-pengusaha asing yang rata-rata adalah
investor dari china. Dan itu semua pastinya akan berimbas pada perekonomian dalam
negeri. Perekonomian yang tidaklah merata, terjadinya ketimpangan sosial,
terjadinya peradaban baru yang semakin tak tertata dll. Kesejahteraan bagi
seluruh rakyat indonesia, keadilan sosial, tanpa kita sadari ini semua semakin
tak bernilai. Dan Inilah menurut saya zaman peralihan dari zaman
tradisionalitas menuju zaman modernitas yang akan banyak di kendalikan oleh
gerakan kapitalis dan akan menyerang nilai-nilai pancasila sebagai idielogi
Negara.
Rakyat-rakyat kecil pengisi pasar tradisional sebagai tempat bermata
pencaharian mereka, secara halus telah di sabotase para kaum kapitalis. Ratusan
orang bahkan ribuan orang dari semua pasar tradisional yang berada di jogja,
adalah aset perekonomian daerah yang juga akan mempengaruhi perekonomian dalam
negeri. Dan mereka semua telah menjadikan pasar tradisional sebagai pusat
perputaran uang dari penjual-pembeli sebagai peredaran uang yang tak dapat di
gantikan. Namun itu dulu, sekarang perlahan-lahan konsumen dan penggandrung pasar tradisional mulailah berpindah
haluan ke mall, supermarket, dll yang itu menawarkan sejuta kemewahan,
kebersihan yang terjamin ketimbang pasar tradisional, pelayanan yang baik dan
tentunya memuaskan daripada setiap konsumennya. Tetapi para konsumen yang dulu
menjadikan pasar tradisional adalah pusat perbelanjaa satu-satunya yang paling
banyak di buru, kini lambat laun hanya tinggal cerita. Kaum modernis yang
cenderung lebih memilih jalan intstanisasi, merubah cara pandang kita yang
hidup di zaman modernitas untuk memilih keadaan yang nyaman dan instan. Lalu
bagaimana nasib rakyat kecil sebagai pengisi keramaian di pasar tradisional
yang telah lama ikut andil dalam pergejolakan perekonomian indonesia dari masa
ke masa? Dan inilah gerak mematikan dari kaum kapitalis yang terus menyerang
rakyat, dan terus mengrong-rong sektor perekonomian warga negara Indonesia.
Melihat fenomena Indonesia saat ini, dimana letak nilai keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia, pancasila telah mengalami degradasi nilai
sebagai falsafah hidup dari setiap rakyat Indonesia. Warga Negara Indonesia
tanpa sadar telah membiarkan nilai falsafah negara terkikis dengan adanya
gerakan kapitalis. Begitu juga para petinggi elit di Indonesia, orang-orang
yang berada di pemerintahan. Begitu acuhnya dengan kebijakan-kebijakan yang itu
sangat merugikan bangsa dan Negara yang sudah jelas Negara yang berideologikan
pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara. Ketimpangan terjadi dimana-mana. Gap antara si
kaya dan si miskin semakin tampak jelas terlihat, yang kaya semakin kaya, yang
miskin semakin miskin. Dan itu semua akan berimbas pada stabilitas ekonomi
negara. Khususnya bagi setiap warga indonesia yang mengharapkan adanya
kesejahteraan bersama, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk itu terlepas dari keterpurukan nilai-nilai pancasila yang terus
tergerus peradaban modernitas dengan gerakan kapitalismenya, kita sebagai warga
Indonesia, sebagai kaum muda khususnya. Jangan pernah bisa lepas dari nilai-nilai
yang telah melekat pada negara penganut pancasilai ini. Karna tanpa adanya
pembaharuan dari setiap genarsi bangsa, dengan peradaban yang terus menawarkan
kemewahan tapi mematikan idiologi berbangsa dan bernegara, kita tidaklah bisa
untuk terus mengikuti peperangan hidup melawan modernitas. Kita tidak akan bisa
menang melawan gerakan-gerakan yang semakin hari semakin menggerus nilai-nilai
falsafah bangsa. Tanpa kita perkuat nilai-nilai pancasila itu pada diri kita
masing-masing. Tanpa kita tanamkan dan
kita tularkan, nilai berbangsa dan bernegara dari falsafah pancasila yang telah
mengkultur bertahun tahun, dan telah menjadi idiologi bersama dalam bernegara.
Pemerintah juga memiliki peran penting dalam hal ini, salah satu alasan
perpindahan masyarakat dari pasar tradisional ke mall adalah karena pada
umumnya pasar tradisional kumuh dan kurang terawat. Karena nya pasar harus
menjadi salah satu proyeksi pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
No comments:
Post a Comment