DEGRADASI
NASIONALISME
Oleh
: Hilyah Maulidiyah
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Lagu karya Alfred Simanjuntak di atas
mengingatkan bahwa kitalah generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.
Generasi yang menyongsong masa depan cerah dan menjadi sosok pemimpin amanah. Dan,
mahasiswa adalah bagian dari generasi emas bangsa. Mahasiswa lah salah
satu elemen yang harus terus bercita-cita mewujudkan bangsa Indonesia ke depan
menjadi lebih baik dan menjadi negara yang berprestasi dalam segala hal.
Gelar “maha” dalam kata mahasiswa
bukan hanya sebuah kata tanpa makna, namun memiliki filosofi yang harus
dipahami oleh puluhan juta jiwa pemuda
negeri ini. apalah makna seorang mahasiswa jika hanya bisa mengkritik tanpa
memberi solusi. Apalah makna seorang mahasiswa jika hanya bisa diam ketika
mengetahui ketidakadilan tersebar dimana-mana, diam ketika melihat rakyat
kesusahan, diam membiarkan oranglain tersiksa.
Tentunya perlu ditanamkan
kesadaran sikap nasionalisme sejak dini pada masing-masing pribadi mahasiswa.
Dalam perspektif saya, Nasionalisme bukan hanya sebatas pengertian cinta tanah
air. Namun juga perlu digaris bawahi bahwa cinta tanah air meliputi cinta
terhadap segala dimensi dalam negara tersebut.
Pada faktanya diseputar dunia
kampus, banyak mahasiswa yang tidak mempedulikan pentingnya memiliki jiwa
nasionalisme yang tinggi. Nasionalisme telah mengalami penurunan nilai
dikarenakan arus globalisasi yang telah melunturkan budaya dan nilai sosial dan
nilai spiritual. Fenomena yang terjadi saat ini mahasiswa lebih bangga
menikmati produk asing dibanding dengan produk lokal, bahkan terkadang sebagian
dari mereka merasa malu jika belum menjadi penikmat dari produk-produk asing. Mahasiswa
cenderung individualistik dan pragmatisme.
Jika kondisi dilematis itu tetap
dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam generasi
muda sebagai penerus bangsa. Mahasiswa sebagai generasi intelektual bangsa
umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti
identitas bangsa.
Saat ini mahasiswa hanya mampu
mengkritik gelap, mengkritik tanpa memberi solusi, hanya mampu melakukan aksi
demonstrasi yang dalam pandangan saya, kurang mendapat apresiasi dari pihak
petinggi negara. Mahasiswa harusnya bisa bergabung dan bersuara dalam
koferensi-konferensi lingkup nasional maupun internasional yang dihadiri oleh
berbagai pejabat negara. hal itu tidak bisa serta merta kita dapatkan dengan
mudah. Sikap nasionalisme yang tinggi akan menumbuhkan semangat belajar yang
tinggi pula, sehingga suara kita dapat tersalurkan dengan mudah sebagai bentuk
aspirasi untuk negeri ini.
Sikap nasionalisme sebagai pondasi
untuk menjaga kultur negeri ini agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus
global. Mahasiswa harus membuka mata atas setiap perubahan dan harus sadar bahwa di era teknologi ini
penjajahan bukan berupa peperangan ataupun genjatan senjata seperti dulu. Namun
penjajahan saat ini diselipkan dalam berbagai hal yang tidak kita sadari.
Harapan besar bangsa ini terletak
ditangan mahasiswa. Mahasiswa harus mampu menjadi bagian dari solusi atas
permasalahan masyarakat, mampu membangun opini positif di masyarakat dan mampu menginspirasi
masyarakat agar memiliki suatu perspektif positif terhadap masa depan Indonesia
yang lebih baik.

No comments:
Post a Comment